http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Taliban Serang TPS Pemilu Presiden Afghanistan

Lusinan serangan kecil telah dilancarkan selama lima jam pertama pemilihan umum.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Abdul Moqim Abdulrahimzai mengatakan, 21 warga sipil dan dua pasukan Afghanistan terluka dalam serangan skala kecil yang dilakukan oleh pihak Taliban. Lusinan serangan kecil telah dilancarkan selama lima jam pertama pemilihan umum (Pemilu) Presiden Afghanistan pada Sabtu (28/9).

"Rencana keamanan yang digunakan untuk mencegah serangan tampaknya bekerja. Sejauh ini kami telah menggagalkan serangan pemberontak," kata Abdulrahimzai.

Sebuah ledakan muncul di tempat pemungutan suara di sebuah masjid di Kota Kandahar, Afghanistan selatan, melukai 16 orang. Sedangkan, pasukan Afghanistan bentrok dengan pejuang Taliban di enam distrik provinsi utara Faryab. Kejadian ini memaksa orang tetap tinggal di dalam rumah dan menahan diri untuk tidak memilih.

Taliban mengatakan dalam sebuah pernyataan, pejuang mereka menyerang tempat pemungutan suara di provinsi Laghman, di Afghanistan timur. Para pejabat mengatakan, empat ledakan di timur kota Jalalabad terjadi selama mengganggu pemilihan di beberapa stasiun. Ledakan juga melanda Kabul dan Ghazni. 

Kelompok garis keras itu meningkatkan serangan terhadap Afghanistan sejak gagalnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Taliban awal bulan ini. Serangan udara yang dipimpin AS telah menyebabkan penghancuran tempat persembunyian Taliban dan puluhan warga sipil terjebak dalam baku tembak bulan ini.

Lebih dari 400 pusat pemungutan suara tetap ditutup karena berada di daerah di bawah kendali Taliban. Ratusan lagi akan ditutup karena masalah keamanan.

"Pembicaraan hanya bisa dimulai jika Taliban menahan diri dan memungkinkan orang untuk memilih," kata seorang diplomat yang mengawasi pemilihan.

Pemilih terdaftar harus memilih selusin kandidat yang terdaftar. Namun, pemilihan presiden kemungkinan akan mengerucut menjadi pertarungan antara calon pejawat Presiden Ashraf Ghani dan mantan wakilnya Abdullah Abdullah.

Kelompok garis keras itu sebelumnya telah mengancam para pemilih untuk menjauh dari tempat pemilihan umum. Apabila tidak menuruti imbauan tersebut, mereka mengancam kalau pemilih akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan. Untuk melindungi pemilih dan tempat pemungutan suara, puluhan ribu pasukan Afghanistan dikerahkan di 34 provinsi.

Sekitar 9,6 juta dari 34 juta orang Afghanistan terdaftar untuk memberikan suara di sekitar 5.000 pusat pemungutan suara. Pemilih akan dilindungi oleh sekitar 100 ribu pasukan Afghanistan dengan dukungan pasukan udara dari Amerika Serikat.

"Sosok yang berani menjadi jelas ketika seseorang harus berani untuk memberikan suaranya di Afghanistan," kata dokter yang berbasis di Ibu Kota Kabul, Roya Jahangir.

Jahangir mengatakan, dia dan suaminya akan memberikan suara meskipun itu berarti berdiri dalam antrean panjang selama berjam-jam. Dia berharap pemilihan kali ini tidak diisi dengan kecurangan, agar masyarakat tidak merasa ditipu kembali.

Tapi pada sore hari waktu setempat, ratusan pemilih mengeluh nama mereka tidak ada dalam daftar pemilih atau pada perangkat biometrik yang digunakan untuk mencegah penipuan. Padahal, Komisi Pemilihan Umum Independen (IEC) telah melonggarkan pembatasan, yang memungkinkan mereka untuk memilih jika mereka memiliki stiker pemilihan pada kartu identitas nasional.

Suasana politik Afghanistan masih dinodai oleh hasil pemilihan presiden 2014. Dalam sengketa itu memaksa dua kelompok saingan utama untuk membentuk kemitraan yang tidak stabil. Kedua belah pihak dituduh melakukan kecurangan besar-besaran dalam pemilihan.

Hasil pemilihan presiden akan diketahui sebelum 7 November karena kondisi daerah. Terlebih lagi, pejabat komisi mengatakan, mereka tidak memiliki kontak dari 901 dari 4.942 pusat pemungutan suara. Tidak jelas apakah pemungutan suara telah dilakukan di pusat-pusat tersebut atau sudah dipaksa untuk ditutup oleh Taliban. 

sumber : REUTERS


Sumber: Republika.co.id

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...