http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Gerakan Payung di Hong Kong dan Kekhawatiran Jadi Xinjiang

Aktivis di Hong Kong khawatir China memberlakukan kebijakan seperti di Xinjiang.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Payung menjadi simbol gerakan yang kuat di Hong Kong dan mengubah jalan unjuk rasa pada tahun-tahun selanjutnya. Gerakan yang muncul pada 2014 itu terus membuat jejak sejarah hingga demonstrasi yang terjadi saat ini.

Sebelumnya, unjuk rasa di Hong Kong sering kali berjalan lebih tenang dan damai, tetapi, pada tahun itu, demonstrasi dipenuhi dengan obor hingga lemparan bom molotov yang menyala oleh polisi anti-huru hara.  Saat ini karakter pemrotes Hong Kong telah berubah secara dramatis dalam lima tahun, demonstran muda menjalankan Gerakan Payung.

Mahasiswa bernama Bunny saat itu adalah salah satu dari ribuan warga Hong Kong yang berkemah di jalanan selama 79 hari. Sosok yang memiliki selera humor dan kesabaran yang luar biasa itu menjadi garda depan dalam protes pada 2014.

"Saya mengubah posisi saya dari rasional menjadi lebih keras selama lima tahun ini. Jika bersikap rasional adalah jalan keluar bagi Hong Kong, mengapa tuntutan kita tidak dipenuhi pada 2014?" ujar sosok yang memilih menyamarkan namanya ini, dikutip dari hongkongfp, Sabtu (28/9).

Nama gerakan payung muncul ketika kerumunan besar bergerak setelah polisi menembakkan gas air mata pada unjuk rasa yang dipimpin oleh mahasiswa. Payung menjadi alat yang digunakan orang untuk membela diri dan menjadi referensi untuk menamakan gerakan tersebut.

Dibandingkan dengan bentrokan yang terjadi saat ini di Hong Kong, protes 2014 lebih tenang dengan mahasiswa menyelesaikan pekerjaan di kamp, mendaur ulang limbah, dan polisi sebagian besar menghindari konflik langsung setelah bentrokan awal. Sedangkan, bentrokan jalanan yang terjadi saat ini telah meletus selama 16 minggu berturut-turut dan menjadi cukup kuat dengan beberapa kali bentrokan dengan polisi.

Banyak dari pendemo yang bergabung dengan Gerakan Payung mengambil bagian dalam protes saat ini. Mereka mencoba membantu dalam mengatasi kegagalan untuk memenangkan konsesi dari Beijing.

Seorang teknisi teater berusia 30 tahun bernama Jackool salah satunya yang terlibat dalam Gerakan Payung mengelola barikade pada 2014, mengharapkan tidak ada serangan dari polisi. Unjuk rasa itu merupakan pertama kalinya dia memainkan peran dalam politik. "Kami memulai dari bukan apa-apa," ujarnya.

Meski dalam unjuk rasa saat ini, Jackool tidak terlibat langsung, partisipasinya tetap berjalan. Dia menghabiskan akhir pekannya sebagai bagian dari armada pengemudi yang menolong pengunjuk rasa yang kembali dari bentrokan.

"Aku mungkin harus menanggung konsekuensi hukum jika 'anak-anak' ada di dalam mobilku. Tapi lalu bagaimana? Itu hanya pengorbanan kecil dibandingkan dengan mereka," kata Jackool.

Melihat kondisi demonstrasi yang akan bertepatan dengan lima tahun Gerakan Payung, Jackool merasakan sedikit rasa khawatir. Dia takut ketika demonstrasi gagal, maka Hong Kong akan berubah seperti  Xinjiang atau wilayah China bagian Barat yang sedang bermasalah terhadap pengekangan Muslim Uighur.

Ketika para pengunjuk rasa meninggalkan kamp pada pertengahan Desember 2014 setelah Beijing berhasil menahan gerakan dan pendapat arus utama lelah, para aktivis meneriakkan: "Kami akan kembali!". Tetapi, seiring berlalunya waktu, hanya sedikit yang mengharapkan hal itu terjadi.

Banyak pemimpin gerakan dituntut dan Beijing memperketat kritik. Sebanyak lima penulis buku yang membangkang menghilang ke tahanan, anggota parlemen oposisi didiskualifikasi, sebuah partai pro-kemerdekaan kecil dilarang, dan seorang jurnalis asing yang menjadi tuan rumah pembicaraan dengan pemimpin partai itu diusir.

Tapi kemudian pemimpin kota Hong Kong yang pro-Beijing Carrie Lam mengajukan Undang-Undang yang mengusulkan ekstradisi ke Cina. Keputusan itu menjadi kembalinya gerakan yang membuat peraturan itu akhirnya dihapuskan.

Henry Wong yang merupakan siswa sekolah menengah pada 2014, saat itu menghabiskan waktu lama di kamp utama di luar parlemen di distrik Admiralty. Dia melihat pada momen itu warga saling membantu dan peduli.

Pria berusia 22 tahun yang menjadi mahasiswa kedokteran itu pun bergabung menjadi tim yang mempelajari efek gas air mata yang lebih dari 3.000 tabung ditembakkan oleh polisi sejauh ini. Dia mempertahankan harapan yang sama, bahkan ketika China menolak konsesi lebih lanjut.

"Kami telah membuktikan setelah 2014, kami memiliki kekuatan untuk kembali lagi. Apa pun yang menunggu kami di depan, kami akan kembali dan kami akan melanjutkan perjuangan," kata Wong menunjukkan rasa optimis dan yakin gerakan ini tidak akan redup dan lelah berjuang. 



Sumber: Republika.co.id

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...